Selasa, 18 Februari 2014

MENGIKUTI RAPAT KERJA TEKNIS PARIWISATA SE KALIMANTAN TIMUR DI DENPASAR PROVINSI BALI

Hari Kamis 13 Pebruari 2014 kami dari staf Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Kominfo Kota Samarinda bertolak ke Denpasar Bali dengan menggunakan salahsatu maskapai penerbangan dari Bandara Sepinggan Balikpapan sekitar jam 10'15 Wiiteng kami take of menuju Denpasar Bali dengan transit di Surabaya. sekitar kurang lebih 1 jam transit di Bandara Intenasional Juanda Surabaya kami melanjutkan perjalanan menuju kota Denpasar Bali.


Sekitar jam 14'30 kami landing di Bandara Ngurah Rai Denpasar Bali dan dijemput Sdr Burhan yang memang selalu melayani jika ada rombongan dari Pemkot Samarinda yang akan berkunjung ke Bali.
Setelah seluruh barang sudah ok kami lansung diantar menuju salahsatu Hotel yakni Hotel Melasti Beach Bungalows yang terletak di Jln Dewi Sartika Kuta Beach...


Setelah menyimpan barang bawaan di kamar Hotel kami langsung menuju ke Pantai Kuta untuk menikmati Sunset dan berfoto foto di Pantai tersebut sambil menikmati deburan ombak di pantai kuta ini, malamnya kami makan disalahsatu restauran bernama warung Plengkung di jalan Raya Kuta denpasar warung yang menyediakan menu Ayam Bakar/goreng dan Ikan.


Setelah kenyang makan malam langsung menuju ke Krisna pusat oleh-oleh di Pulau dewata, setelah itu kemudian menuju ke Kawasan Legian  meliahat-lihat Monumen Tragedi Bom Bali dan balik ke hotel untuk istirahat.

Hari Jum'at 14 Pebruari 2014 rombongan kami pindah ke Hotel Eden tidak jauh dari Hotel Melasti dan saat itu ingin saya gunakan untuk jalan-jalan menyusuri seputar Kota Denpasar, akhirnya saya menyewa Sepeda Motor yang dirental tepat di depan hotel, harga sewa rental Sepeda Motor Rp 60.000,- / 24 jam jenis motornya matic, saya sewa selama 2 (dua) hari hanya dengan jaminan Kartu Tanda Penduduk.

Usai Jum'at langsung saya mencari warung makan untuk mengisi kampung tengah, kali ini saya harus mencari warung yang menyediakan makanan yang halal, maklum di Bali kita harus hati-hati terutama kita yang muslim karena di bali banyak juga warung yang menyediakan makanan Non Halal, kali ini saya pilih saja Warung Padang agar lebih aman...

Setelah perut kenyang langsung menuju ke Joger tempat belanja baju kaos yang bertulisan unik ( saat ini sudah banyak macam yang dijual termasuk Sandal, Tas, Jacket, Handycraft, Merchandise dsb) pokok tinggal duitnya saja kita siapkan untuk memborong oleh-oleh tersebut.

Discovery Mall Yang Terletak di Kawasan Pantai Kuta Bali


Kamis, 26 Desember 2013

PESONA DESA BUDAYA PAMPANG SAMARINDA

DESA Pampang didirikan pada era 1970-an oleh 5 kepala keluarga. Mengenai asal keluarga itu, ada dua versi yang diterima media ini, yakni dari Long Lees, Kecamatan Busang, Kutai Timur dan daerah Apokayan, Malinau. Yang pasti, keluarga ini adalah Suku Dayak Kenyah.

Hasil perbincangan media ini dengan Kepala Adat Dayak Kenyah Desa Budaya Pampang, Marten Abat dan staf humas adat, Penjaunjuk, diketahui perjuangan kelima keluarga ini sangatlah berat. Dari daerah asal, mereka mendayung perahu mereka dan berladang. Hingga akhirnya menetap di Kelurahan Sungai Siring, sekitar 20 kilometer dari Kota Samarinda.

Seiring waktu, sanak keluarga dan tetangga dari daerah asal mengikuti jejak kelima keluarga itu. Mereka akhirnya memilih menetap dan memenuhi kebutuhan hidup dengan cara bertani dan berladang. Adat budaya yang terus mereka bawa, membuat Pemprov Kaltim menjadikan Pampang sebagai Desa Budaya sekitar tahun 1991.
Rumah adat berbentuk lamin mereka dirikan ketika mereka tiba. Lamin itulah masih bisa wisatawan saksikan hingga. Bernama Lamin Adat Pemung Tawai, rumah adat itulah yang kini menjadi pusat hiburan bagi wisatawan yang berkunjung ke Desa Budaya Pampang.
Mulai berfoto dengan penari, warga yang berpakaian adat, hingga berfoto dengan warga yang memiliki telinga panjang.

LAMIN ADAT PAMPANG


Para Wanita Bertelinga Panjang










Lamin terbagi dalam tiga bagian, yakni bagian tengah yang telah dibangun sejak mereka tiba pertama kali, serta bagian sayap kanan dan kiri yang dibangun tahun 1994 dan 1997. Uniknya, pada bagian tengah, terdapat ukiran kayu ulin yang sangat indah.
Penjaunjuk yang juga menjadi penggerak kesenian dan penjaga kebersihan Lamin menjelaskan, dalam ukiran tersebut menggambarkan kondisi kehidupan sosial kemasyarakatan Suku Dayak Kenyah.
Dalam ukiran dikatakan terdapat ukiran sosok pria yang disebutnya sebagai kepala adat yang bertindak sebagai pemimpin. Selain itu, terdapat ukiran burung enggang di sisi kanan dan kiri atas bangunan yang dikatakan menggambarkan hidup damai.
Terdapat pula dua ukiran harimau di pojok kiri dan kanan bawah yang dijelaskan sebagai sosok pahlawan. Tak hanya itu, terdapat pula tempayan yang terletak tepat di bawah kaki ukiran kepala adat yang dijelaskan sebagai tempat berkumpulnya jiwa masyarakat.
Di bawah tempayan, terdapat ukiran gong yang dijelaskan sebagai pelindung. Sehingga selamat dari bencana. “Misalnya ada hujan batu, maka suku kami akan tetap aman,” terangnya.  Bahkan ia juga menggambarkan ukiran Naga tepat di bawah gong yang menjadi simbol penjaga ketika warga suku Dayak Kenyah pergi ke sungai.
Untuk mengingat asal usul mereka, warga selalu memperingati dalam bentuk kegiatan Pelas Tahun. “Acara itu menceritakan kisah-kisah masyarakat Pampang. Biasanya akan ditentukan tema-temanya sebelum acara. Setelah disepakati, baru akan digelar acaranya,” ucap Marten Abat yang menambahkan acara Pelas Tahun selalu digelas setiap bulan Juni.
Acara itu awalnya sempat ditinggalkan masyarakat setempat, karena kegiatan itu terkait masalah kepercayaan. Tapi, kegiatan itu kini kembali dilakukan. Bukan untuk ritual kepercayaan, tapi sebatas show atau pertunjukan.
Marten Abat meminta, acara Pelas Tahun seharusnya masuk dalam kalender kegiatan Pemkot Samarinda, sehingga dapat mengundang wisatawan datang ke Desa Budaya Pampang. Targetnya, perputaran uang akan besar dan kesejahteraan masyarakat juga meningkat.
“Tapi pelaksanaan selama ini selalu menggunakan dana swadaya masyarakat. Kalau pemerintah membantu, biasanya setelah dilaksanakan. Jika benar mau membantu, serahkan dananya ke kami. Nanti kami buatkan Pelas Tahun selama seminggu penuh. Sekarang ini, biasanya hanya 1 hari,” terangnya
Ada beberapa nama pejabat yang hingga kini masih melekat di telinga masyarakat, yakni mantan Wali Kota Samarinda, Kadrie Oening, dan mantan kepala Dinas Pariwisata Samarinda, Ismet dan Robby Hartono
“Walau bantuan dananya tidak sebesar yang diharapkan, tetapi pendekatan dan perhatian yang diberikan ke masyarakat membuat nama mereka terus diingat hingga kini. Sampai sekarang, belum ada lagi pejabat yang seperti itu. Kami harap Jaang bisa menjadi penerusnya,” harapnya. 
Pertunjukan Tari Tradisional di Desa Budaya Pampang



KEMEGAHAN MASJID ISLAMIC CENTER SAMARINDA

Bedug Yang Berdiri Di Depan Tangga
Mimbar Chatib
Interior Ruangan Dalam Masjid

Selasar Islamic

KUNJUNGAN KE KOTA PONTIANAK (KAL-BAR) & KUCHING SARAWAK MALAYSIA.

Selasa tanggal 1 Oktober 2013 bertolak dari Bandara Sepinggan Balikpapan menuju Bandara Soekarno Hatta (transit) dan melanjutkan penerbangan ke Kota Pontianak, sekitar jam 16.30 Wib tiba dengan selamat di Bandara Supadio Pontianak. Setelah Tiba langsung Makan di salahsatu Restoran di Kota Pontianak dan setelah itu menuju ke Hotel Star yang berlokasi di Jalan Gajah Mada. Rabu, 2 Oktober 2013, Kunjungan saya beserta rombongan Walikota Samarinda dan Sanggar Tari "Apau Punyaat" Samarinda adalah ke Monumen Tugu Khatulistiwa salahsatu icon Kota Pontianak, menuju ke Tugu saya naik Kapal Fery maklum salahsatu Jembatan tidak bisa dilewati karena penyanggah ditabrak ponton.



Sekitar Jam 13 chek out dari Star Hotel saya dan rombongan menuju ke Rumah Makan Depot 18 di Kota Pontianak, setelah itu menuju ke Rumah Adat Dayak Panjang / Rumah Randakng Pontianak Kalbar, kebanggaan masyarakat Dayak Kalbar.

Senin, 20 Mei 2013

MENGHADIRI RAKERNAS APEKSI TAHUN 2013 DI PALANGKA RAYA

Pada kesempata kali ini saya akan berbagi pengalaman mengikuti Rapat kerja Nasional Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia  (Apeksi) ke IX di Kota Palangka Raya http://palangkaraya.go.id/ Kota yang di gadang-gadang untuk menjadi Calon Ibu Kota Republik Indonesia setelah Jakarta.
Hari Senin, tanggal 06 Mei 203 sekitar jam 17'00 sore saya dan rombongan khususnya team kesenian Kota Samarinda yakni "Borneo Etnica" bertolak dari Bandara Sepinggan Balikpapan menuju Kota Palangkaraya, penerbangan dari Balikpapan ke Palangkaraya tidak ada jadi kita harus transit di Surabaya.
Sekitar Jam 23'00 kami mendarat di Bandara Tjilik Riwut dan langsung menuju ke tempat Menginap yakni salahsatu Guest House yang terletak di Jalan Seth Adji yaitu Guest House "Wagga Mama" maklum Hotel di Kota Palangkaraya sudah Full Booked karena hampir semua Pemerintah Kota Seluruh Indonesia hadir di Rakenas Apeksi di sini.




Hari Selasa, tanggal 07 Mei 2013 adalah hari Pembukaan secara resmi Rakernas APEKSI IX Tahun 2013 dibuka oleh Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia (Gamawan Fauzi) Rakernas juga dihadiri beberapa Dirjen Kementerian Dalam Negeri , Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, yang mewakili Komisi Pemberantasan Korupsi, Forum Koordinasi Daerah Pimpinan Daerah Provinsi Kalimantan Tengan, dan Walikota seluruh Indonesia.
Pembukaan Rakernas Apeksi IX Tahun 2013  dilaksankan di Swissbel Hotel Danum Palangkaraya.
dalam sambutan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia (Gamawan Fauzi) menekankan masalah Perekaman E KTP agar seluruh Masyarakat agar segera melakukan perekaman E KTP demi menghindari adanya tindak kriminal / kejahatan di tanah air, salahsatu contoh yakni banyaknya masyarakat di beberapa daerah yang melakukan perekaman E KTP yang berulang-ulang dan memiliki KTP Ganda.
Sore harinya sekitar Jam 15'00 Tim Kesenian dari Kota Samarinda

Rabu, 15 Mei 2013

AUDISI GITA BAHANA NUSANTARA 2013 SE KOTA SAMARINDA

Haloo....ketemu lagi...
kali ini saya akan menginformasikan tentang Audisi Gita Bahana Nusantara yang kami laksanakan setiap Tahun melalui program dari Seksi saya yakni Seksi Kebudayaan dan Kepurbakalaan di Dinas  Kebudayaan Pariwisata dan Kominfo Kota Samarinda.

Gita Bahana Nusantara adalah menjaring Penyanyi yang bisa Paduan Suara untuk menyanyikan lagu-lagu perjuangan/kebangsaan yang natinya pada Bulan Agustus nanti akan tampil di Gedung MPR / DPR RI pada saat Presiden melakukan Pidato Kenegaraan Pengantar RAPBN 2013 dan Nota Keuangan di Kompleks Parlemen Senayan serta pada Peringatan Detik-Detik Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus nanti.

Fose dulu di depan Istana Negara Sambil Latihan (peserta Audisi 2012)




Peserta dari Kota Samarinda saat Paduan Suara di Istana Negara Tahun 2012


 




Seperti juga Tahun kemarin ( 2012 ) kami melaksanakan Audisi Gita Bahana Nusantara dan alhamdulillah saat itu 3 (tiga) peserta dari Kota Samarinda mewakili Kota Samarinda menuju ke Jakarta ( Istana Negara dan Gedung MPR/DPR RI ) untuk bernyanyi dalam bentuk Paduan Suara dan Orkestrasi.
Ini adalah Para Peserta Audisi tahun 2012 yang mewakili Kaltim 3 diantaranya dari Samarinda lg berfose di depan Monas




Untuk Audisi Gita Bahana Nusantara 2013 sebanyak 22 peserta yang mendaftar dan nantinya akan terpilih 4 (empat) peserta yakni 2 laki-laki dan 2 perempuan dengan type suara Alto, Tennor, Sopran dan Bass.
Kali ini Audisi kami laksanakan di tempat yang sejuk yaitu di Plaza Mulia Samarinda pada hari Sabtu tanggal 4 Mei 2013, karena Plaza tersebut baru buka sekitar jam 10 pagi maka pelaksanaan Audisi kami mulai sekitar jam 11'00 dengan diawali registrasi peserta dan pencabutan Nomor Tampil.







Pemenang dari Audisi GBN 2013 ini nantinya akan mewakili Kota Samarinda ke Tingkat Provinsi Kalimantan Timur dan berlaga dengan Kabupaten/Kota se Kalimantan Timur. Semoga Peserta dari Kota Samarinda lolos kembali melangkah ke Jakarta (Istana Negara dan Gedung DPR/MPR Republik Indonesia)...


Sabtu, 27 April 2013

MENGIKUTI EVENT “PEKAN BUDAYA DAYAK” 2013 DI ISTORA GELORA BUNG KARNO JAKARTA


Hari Jumat, 26 April 2013 sekitar jam 07 pagi Wib. Pesawat yang saya tumpangi bersama dengan rombongan Team Kesenian Kota Samarinda mendarat di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng, maklum kami take off dari Bandara Sepinggan Balikpapan sekitar jam 06 Pagi Witeng. (ada perbedaan 1 jam Balikpapan dengan Jakarta). Setelah mengumpulkan barang-barang bawaan termasuk peralatan tari-tarian dari Sanggar Tari “Apo Lagaan” dengan rombongan sebanyak kurang lebih 26 orang, kami bertolak menuju hotel yang berlokasi dekat Bundaran HI, tepat di hotel Clay jalan Blora. O…ya hari ini juga hari Wafatnya Ustadz Jefri Al Bukhari (Uje’) ustadz yang sangat kondang, semoga  alamarhum mendapat tempat yang layak di sisi Allah SWT amin ya rabbal alamin.

Sabtu, 27 April 2013 bertempat di Kompleks Stadion Gelora Bung Karno Jakarta, Pembukaan secara resmi “Pekan Budaya Dayak 2013” akan dibuka secara resmi oleh Bapak Wakil Presiden Boediono. Beberapa atraksi kesenian yang ditampilkan para penari dari salahsatu Etnis Dayak di Kalimantan sebelum Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia membuka secara resmi Pekan Budaya Dayak 2013.




Setelah membuka secara resmi Pekan Budaya Dayak 2013 wakil Presiden meluangkan waktu untuk berkunjung ke Stand Pameran yang ada dalam gedung indoor kompleks stadion gelora bung karno. dan inilah Stand Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Kominfo Kota Samarinda.

Wakil Gubernur Kaltim Hadir juga di Stand Pameran Dinas Kebudayaan Pariwisata & Kominfo Kota Samarinda

Gubernur Kaltim Awang Farouk Mengisi Buku Tamu Stand Pameran Dinas Kebudayaan Pariwisata & Kominfo Kota Samarinda

Gubernur Kaltim dan Sekprov Kaltim berbincang-bincang di 

depan Stand Disbudparkominfo Samarinda

Beberapa kegiatan dihari pertama ini yakni ada pemaparan tentang potensi daerah masing-masing provinsi di Kalimantan untuk menarik para Investor untuk menanamkan modal dalam berbagai usaha, baik Jasa, Industri, dan Perdagangan, juga penampilan Tari-tarian Tradisional masing-masing daerah.

Minggu, 29 April 2013, hari Acara Carnaval Budaya Dayak yang diikuti seluruh Proninsi dan Kabupaten Kota yang ada di Kalimantan dengan mengambil rute start awal dimulai dari lokasi kompleks Gelora Bung Bungkarno dan jalan Jenderal Sudirman.
Bpk. Walikota Samarinda H. Saharie Ja'ang & Ibu Langsung Memimpin Karnaval Budaya Dayak