Minggu, 13 September 2015

FESTIVAL MAHAKAM KE 15 TAWARKAN RAGAM SENI DAN BUDAYA



Sungai Mahakam yang menjadi kebanggaan masyarakat Samarinda, sungai yang terbesar & terpanjang di Kalimantan Timur yang merupakan salahsatu urat nadi kegiatan perekonomian di Kalimantan Timur dan Kota Samarinda pada khususnya.

Pemerintah Kota Samarinda dalam hal ini Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif dan Kominfo siap menggelar kegiatan tahunan "Festival Mahakam ke 15" Tahun 2015 yang dipusatkan di kawasan Tepian Sungai Mahakam di Kota Samarinda untuk meningkatkan kunjungan wisata ke daerah ini.

"Persiapan sudah direncanakan dan festival akan digelar selama tiga hari dimulai pada hari Jum'at, tanggal 6 Nopember 2015 sampai dengan hari Minggu tanggal 8 Nopember 2015.


Festival menampilkan berbagai lomba di Sungai antara lain lomba Berenang Menyeberangi Sungai Mahakam, lomba Perahu Tambangan, Lomba Power Boating (Speed Boat), lomba Perahu Bermesin Mobil dengan hadiah jutaan rupiah.

Lomba Berenang Menyeberangi Sungai Mahakam 


Ada pula pagelaran seni budaya yang menampilkan Pawai Budaya, Marching Band, lomba Tari Pesisir dan Pedalaman, Fashion, lomba Band dan Parade Band Pub se Kota Samarinda, Ritual Adat Hudoq Kawit, dan Festival musik tradisional Sampe, dan Pameran / Expo Mahakam.
Selain kegiatan tersebut tidak kalah menarik adalah pagelaran Mahakam Jazz Fiesta yang menghadirkan para pemusik dan penyanyi jazz nasional serta festival kuliner.

Ini dia Lomba Perahu Bermesin Mobil Waww seru...pastinya


Seperti diketahui bahwa 2 (dua) tahun berturut-turut tahun 2013 dan 2014, Festival Mahakam dalam kegiatannya ada Pemecahan Rekor Museum Republik Indonesia (MURI) tahun 2013 ada pemecahan rekor memasak ibu-ibu pintar dan para pejabat di jajaran Pemerintah Kota Samarinda, dan di tahun 2014 pemecahan rekor Gaun terpanjang dari bahan motif kain Sarung Samarinda.

Diharapakan Festival ini lebih semarak dan ditonton ribuan pengunjung sebagai salahsatu event yang dapat menarik kunjungan wisatawan baik lokal, wisatawan nusantara dan bahkan wisatawan manca negara

Sabtu, 12 September 2015

FESTIVAL MAHAKAM 2015 PESTANYA MASYARAKAT SAMARINDA



Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif Dan Kominfo Kota Samarinda kembali akan menggelar Festival Mahakam. Kegiatan ini sebagai salah satu upaya untuk mempromosikan Kota Samarinda sebagai Kota Jasa Industri dan Perdagangan dengan segala keragaman budaya yang hidup dan tumbuh di masyarakat Kota Samarinda.

Festival yang sudah memasuki tahun ke- 15 ini juga menjadi ajang pelestarian seni budaya dan beberapa lomba yang dilaksanakan di Sungai Mahakam di Kota Samarinda. Pasalnya festival ini akan menampilkan berbagai lomba di Sungai Mahakam seperti : Lomba Berenang Menyeberangi Sungai Mahakam, Lomba Power Boating (Speedboat), Lomba Perahu Tambangan, Lomba Perahu Bermesin Mobil serta Eksebisi Jetsk, sedangkan atraksi kesenian lainnya ad Pawai Budaya yang diikuti kelompok-kelompok etnis yang berdomisili di Samarinda, Ada Upacara Ritual Hudoq Kawit, Ada Festival Kuliner, Lomba / Parade Band se Kota Samarinda, Lomaba Tari Kreasi Pesisir dan Pedalaman, Mahakam Jazz Fiesta, Expo Mahakam dan berbagai acara eksebisi lainnya.

“Festival Mahakam akan digelar mulai hari Jum'at , 06 Nopember 2015 sampai hari Minggu, 08 Nopember 2015.

Pihak Panitia mengharapkan akan ada lagi Pemecahan Rekor MURI seperti halnya 2 Tahun berturut-turut yakni rekor Memasak dgn jumlah peserta terbanyak Tahun 2013 dan Membuat Gaun terpanjang dengan bahan kain tenun Sarung Samarinda serta Amplang terpanjang Tahun 2013 lau.

Festival bakal berlangsung meriah dan didatangi banyak pengunjung, mengingat banyak kegiatan dan atraksi seni budaya yang ditampilkan.

Selasa, 01 September 2015

WELCOME DINNER SAMBUT PESERTA FESTIVAL BORNEO 2015 KALIMANTAN TIMUR





Samarinda, - Jelang perhelatan akbar Festival Borneo dan Rapat Konsultasi Wilayah Tujuan Wisata (WTW) se Kalimantan Tahun  2015 yang akan dimulai besok, Rabu (2 September 2015) di Kompleks GOR Madya Sempaja Samarinda, para peserta disambut hangat dalam acara Welcome Dinner yang berlangsung di Lamin Etam Gubernur Provinsi Kalaimnatan Timur malam tadi, Selasa (1 September 2015).
Welcome Dinner yang berlangsung meriah dan dihadiri langsung oleh Bapak Gubernur Provinsi Kalimantan Timur Bapak Awang Faroek Ishak, dihadiri pula oleh para Kepala Dinas Pariwisata se Kalimantan dan Kalimantan Timur, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalimantan TimurI, Badan Promosi Pariwisata Daerah Kalimantan Timur, dan para Undangan lainya.
Acara dimulai dengan penampilan Tarian Selamat Datang persembahan dari para Penari dan Pemusik dari Kabupaten Paser yang merupakan Penari dan Pemusik yang menjadi Juara pada Festival Kemilau Seni Budaya Etam Tahun 2014 tahun lalu yang membawakan Tari dengan nuansa Pedalaman Kalimantan Timur.
Dalam Sambutan Selamat Datang yang disampaikan Bapak Gubernur Provinsi Kalimantan Timur Bapak Awang Faroek Ishak menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh peserta dari 5 (lima) Provinsi yang ada di wilayah Pulau Kalimantan, selain itu Gubernur juga menyampaikan bahwa sektor Pariwisata yang harus dikembangkan dan Provinsi Kalimantan Timur saat ini berbenah diri seperti mempersiapkan infrastruktur mulai Bandara, Terminal Angkutan Darat, Pelabuhan Laut dan juga pelabuhan-pelabuhan yang ada di sungai Mahakam. Gubernur mengatakan bahwa saat ini kita tidak bisa lagi tergantung kepada sumber daya alam berupa minyak, gas dan batu bara, tetapi harus memulai dengan sumber yang terbarukan yakni Industri Pariwisata. Kalimantan Timur kaya akan destinasi alamnya seperti Sungai Mahakam yang membentang dari Hulu sampai ke Hilir, ada Pulau Derawan yang terkenal di dunia dengan keindahan bawah laut, serta habitat penyu, dan dalam waktu dekat akan diresmikan Bandara di Pulau Maratua suatu pulau terluar dari provinsi Kalimantan Timur yang terletak di Kabupaten Berau.
Dalam acara Welcome Dinner dihadiri pula oleh Artis Penyanyi Legenda yang bersuara melengking yang tenar di tahun 70’an dan 80’an yakni Eddy Silitonga yang menghibur para undangan dengan lagu yang pernah tenar dibawakan antara lain Jatuh Cinta, dan beberapa lagu daerah seperti lagu batak dan lagu ambon. Setelah itu acara berlangsung meriah dengan mengajak para undangan untuk bernyanyi satu persatu tampil di hadapan Gubernur.

Acara yang berlangsung kurang lebih selama tiga jam itu, dimeriahkan oleh hiburan tari-tarian Pesisir dan lagu-lagu daerah Kaltim dari binaan UPTD Taman Budaya Provinsi Kalimantan Timur. Para tamu welcome dinner pun merasa terhibur dengan penampilan para seniman tersebut.

Minggu, 21 Juni 2015

MASJID SHIRATAL MUSTAQIEM, MASJID TERTUA YANG DIBANGUN DENGAN PENUH MISTERI



Warga muslim di Kota Samarinda tentu mengenal Masjid Shirathal Mustaqiem, karena masjid keramat dan tertua di Kota Samarinda, Kalimantan Timur ini dulunya menjadi pusat ajaran Islam pertama di Kerajaan Kutai.

Kisah pembangunannya pun menarik untuk disimak karena tak lepas dari hal supranatural dan di luar nalar manusia.

Kisah pembangunan masjid ini diturunkan secara turun temurun dan selalu menjadi cerita yang terus didengar di lingkungan sekitar masjid. Kisah-kisah itu kemudian dibukukan dan diterbitkan oleh Pemerintah Kota Samarinda.

Dalam catatan sejarah yang tertuang dalam buku kilas sejarah Masjid Shirathal Mustaqiem Samarinda, masjid ini mulai dibangun pada 1881 dan selesai 10 tahun kemudian. Kisah yang paling sering diceritakan adalah proses mendirikan empat pilar utama masjid ini.

Menurut Ketua Ikatan Remaja Masjid (Irma) Shirathal Mustaqiem, Abdurrahman Amin, saat Islam sudah mulai menyebar di Kerajaan Kutai, datanglah seorang saudagar kaya dari Pontianak, Kalimantan Barat yaitu Said Abdurachman bin Asegaf.
Karena belum adanya pusat kegiatan Islam di kawasan Samarinda Seberang membuat saudagar yang juga ulama ini berinisiatif membangun masjid.

Setelah berunding, akhirnya diputuskan pembangunan masjid pada sebidang tanah. Namun lahan ini sehari-hari digunakan untuk berjudi. Jika siang hari untuk judi sabung ayam, malam harinya dijadikan judi dadu. “Untuk menutup lokasi perjudian itu, dan mengurangi masyarakat berjudi, dipilihlah lokasi ini untuk dibangun masjid oleh Said Abdurachman. Pengumuman pun dibuat agar warga ikut membantu pembangunannya,” kata Abdurahman. Untuk membangun masjid dibutuhkan empat pilar utama. Satu pilar harus terbuat dari kayu yang dibuat dari sebuah pohon utuh.

Sayangnya, setelah persiapan dilakukan, pilar yang tersedia hanya ada tiga. Tiga pilar itu sudah berdiri tegak. “Tiga pilar ini sumbangan dari berbagai warga yang ingin terlibat. Ada yang dari hulu Sungai Mahakam, ada juga yang dari hilir.

Sayangnya yang terkumpul baru tiga, jadi kurang satu pilar lagi,” timpalnya.
Di tengah kebingungan mencari pilar keempat, datanglah seorang nenek yang berusia sepuh. Nenek ini kemudian menawarkan satu pilar lagi. Warga yang sedang gotong royong membangun masjid awalnya tak percaya. “Nenek ini meminta agar semua yang ikut gotong royong pulang saja dulu. Dia menjanjikan pilar keempat akan sudah berdiri keesokan harinya,” tukas Abdurahman.

Keesokan hari, saat cahaya pagi mulai muncul, warga berbondong-bondong mendatangi masjid. Betapa terkejutnya mereka karena pilar keempat itu berdiri tegak, simetris dengan tiga pilar lainnya. Pembangunan pun dilanjutkan hingga tuntas pada 1891.

Jauh sebelum kedatangan Habib Said Abdurachman, para ulama Sulawesi Selatan dari Kerajaan Gowa-Tallo juga telah berupaya mengislamkan Kerajaan Kutai pada akhir abad ke-16.

Di awal abad ke-17, tepatnya pada 1607 Islam sudah menyebar di Kutai Kartanegara dengan lebih dulu mengIslamkan Sultan Kutai kala itu yaitu Sultan Adji Raja Mahkota.

Kemudian pada 1668 datanglah saudagar asal Kerajaan Wajo, Sulawesi Selatan La Mohang Daeng Mangkona.

Berdasarkan penuturan Abdurahman Amin, kedatangan Daeng Mangkona, sapaan untuk La Mohang Daeng Mangkona, bertujuan meminta izin ke Sultan Kutai untuk tinggal di Kutai Lama. Daeng Mangkona memilih meninggalkan Wajo karena terjadi pergulatan politik di sana.

Sultan Kutai pun menyetujui, lalu bersama pasukannya Daeng Mangkona kemudian mampu membantu Kerajaan Kutai mengusir perompak asal Solok, Filipina.
“Atas jasa itulah, Daeng Mangkona dan pengikutnya diberi daerah otonom di Samarinda seberang bagian ulu. Daeng Mangkona yang juga memiliki pemahaman Islam yang kuat kemudian membangun perkampungan di daerah itu,” kata Abdurahman.

Dia menambahkan, pemukiman ini kemudian berkembang pesat dan menjadi pusat syiar Islam di Kerajaan Kutai Kartanegara. Sayangnya, belum ada pusat syiar Islam seperti masjid.

“Kedatangan Said Abdurachman inilah yang kemudian memunculkan inisiatif pembangunan masjid. Lagi pula, di kawasan itu belum ada masjid, sehingga warga kesulitan menggelar salat Jumat,” kata Abdurahman yang juga menjabat Pemimpin Redaksi sebuah koran lokal di Kaltim.

Karena kekayaan dan kedermawanannya dalam membantu menyiarkan Islam, lalu Said Abdurachman kemudian diberi gelar Pangeran Bendahara. Begitu masjid ini berdiri, kawasan Samarinda Seberang makin menjadi pusat kegiatan Islam di Kutai Kartanegara.

Imam pertama masjid ini adalah Sultan Aji Muhammad Sulaiman yang kini diabadikan menjadi nama bandara di Kota Balikpapan.
“Informasi berdirinya masjid ini menyebar ke mana-mana. Banyak warga dari daerah lain yang datang menggunakan perahu untuk salat Jumat. Makanya kampung ini lebih dikenal dengan nama Kampung Masjid. Kini daerah itu diberi nama Kelurahan Masjid,” kata Abdurahman.
Hingga kini, masjid itu masih berdiri tegak. Meski direnovasi beberapa kali, namun tetap mempertahankan wujud asli bangunannya.

Ada kisah versi lain dalam pembangunan empat pilar itu. Di buku Kilas Sejarah Masjid Shirathal Mustaqiem Samarinda yang diterbitkan Pemkot Samarinda, kehadiran nenek itu bukan membawa pilar ke-empat. Namun mendirikan seluruh pilarnya.

Saat bergotong royong, warga kesulitan mendirikan empat pilar yang tingginya 15 meter dan berdiameter 60 centimeter.
Di tengah kesulitan mendirikan pilar, nenek itu datang menawarkan diri. Dia mengaku sanggup mendirikan empat pilar itu sendirian.

Meski awalnya ditertawakan, akhirnya nenek itu diberi kesempatan. Dia berjanji bisa mendirikan pilar hanya dalam semalam.

Terbukti, keesokan paginya, warga terkaget-kaget melihat empat pilar itu sudah berdiri tegak. Pembangunan masjid pun dilanjutkan hingga tuntas.

“Versi cerita memang ada dua. Namun yang kami dengar secara turun temurun di lingkungan sekitar masjid ya nenek itu yang membawa pilar keempat,” kata Abdurrahman yang tinggal tak jauh dari Masjid Shirathal Mustaqiem.
Usai membantu pembangunan masjid, nenek itu langsung menghilang. Tak pernah ada warga yang melihat kembali sang nenek.
Oleh Pemerintah Kota Samarinda, Masjid Shirathal Mustaqiem kemudian ditetapkan sebagai cagar budaya.
Tempat ini kemudian dijadikan wisata sejarah, berdampingan dengan pusat pembuatan sarung tenun Samarinda.

Senin, 15 Juni 2015

TOLERANSI BERAGAMA DI SAMARINDA

Melalui forum ini, Anda akan menemukan banyak contoh intoleransi agama dengan beberapa kasus yang terjadi sampai sampai terjadi konflik horisontal baik antar agama maupun antar etnis/suku yang sampai menelan korban jiwa yang tidak berdosa.

Di sisi lain, Anda juga sering mendengar orang membahas tentang suatu kota/daerah dengan tingkat Toleransi yang tinggi terhadap beragam agama dan etnis/suku.

Dalam hal ini saya ingin menjelaskan bagaimana Kota Samarinda merupakan Kota yang sesuai dengan mottonya yaitu "TEPIAN" (TEduh, raPI, Aman, dan Nyaman). Kota Samarinda mempunyai Penduduk Pendatang dari berbagai suku/etnis yang berbeda-beda, ada Suku Kutai, Bugis, Banjar, Jawa dsb. bahkan hampir dikatakan bahwa seluruh suku/etnis di Indonesia hampir semuanya ada di Kota Samarinda. begitu juga dengan Agama yang dipercaya / dianut oleh berbagai suku / etnis yang bermukim di Kota Samarinda.

Pernah memang terjadi gesekan-gesekan kecil antara satu suku/etnis dengan suku lainnya, tapi tidak sampai menjadi persoalan yang besar hingga menjadi konflik yang berkepanjangan ataupun sampai menjadi issu nasional. bahkan salahsatu organisasi masyarakat yang berbasis agama yang dianggap ekstrimpun tidak terlalu berpengaruh di wilayah ini, bahkan organisasi masyarakat ini turut serta menjaga keamanan dan kedamaian masyarakat yang bermukim di Kota Samarinda ini.

Indonesia dipuji karena keragamannya. Ini juga berlaku untuk toleransi beragama. Banyak daerah yang jauh dari Jawa dan Sumatera akan menunjukkan toleransi yang jelas.

Berikut adalah Bangunan yang berbeda dengan konotasi agama dapat Anda temukan di Kota Samarinda. Semua sangat terlihat dan, dari apa yang saya tahu, tidak pernah terjadi yang namanya pengrusakan, penistaan ataupun hal-hal yang mengganggu terhadap ketertiban dan keamanan, baik yang sifatnya kepada antar suku/etnis maupun terhadap agama maupun kepercayaan yang masing-masing diyakini dan dianut oleh ummat. .

Ini hanya sebuah contoh dari bangunan/tempat beribadah yang dibangun di Kota Samarinda yang saya tahu, dan memiliki keistimewaan dari ragam agama dan kepercayaan yang dipercayai oleh warga yang bermukim di Kota Samarinda.

VIHARA EKA DHARMA MANGGALA SAMARINDA
BUDDHIST CENTER SAMARINDA
KLENTENG

Kuil Cina ini adalah salah satu tertua yang saya tahu. !
Klenteng ini ditempatkan tepat di depan pintu gerbang kota; Pelabuhan Kota  untuk penumpang. Siapa pun yang datang di Samarinda dengan Kapal ataupun perahu, ini akan menjadi pandangan yang pertama dilihat.



PURA TEMPAT UMMAT HINDU 
Salahsatu Tamu yang berkunjung di Buddhiest Center sempat menunaikan Sholat 

Lebih ke Hulu di jalan yang sama, di tepi sungai, dibangun "Islamic Center". Samarinda, sebagai ibukota timur Kalimantan, telah membuat beberapa upaya untuk menarik wisatawan. Masjid besar ini merupakan Masjid terbesar ke 2 (dua) di Asia Tenggara setelah Masjid Istiqlal di Jakarta. Sangat Indah dari segi arsitektur.


ISLAMIC CENTER SAMARINDA

GEREJA KATEDRAL SAMARINDA














KELENTENG THIEN IE KONG Samarinda Masuk Dalam Cagar Budaya

Kelenteng Thien Ie Kong yang berada di Kota Samarinda dan dibangun sejak jaman penjajahan Belanda termasuk  salah satu Cagar Budaya Kaltim yang perlu dilestarikan karena telah berusia 110 tahun. Bangunan yang berdiri sejak tahun 1905 tersebut masih berdiri kokoh walaupun pernah hampir terkena  bom Jepang yang dijatuhkan untuk menghancurkan pabrik pengolahan minyak goreng yang berada dibelakang kelenteng.



Ketua Kelenteng Thien Ie Kong,  mengatakan pada saat perayaan Imlek 2563 tahun ini, kelenteng Thien Ie Kong juga ramai mengadakan berbagai kegiaan keagamaan seperti sembahyang arwah umum, menyambut tahun baru Imlek, menyambut Dewa  Sing Beng turun dari langit, pembukaan malam purnama raya, Hari Raya Waisak, Hari Raya Tiong Chiu, Hari Raya Kongco Kong Tik Cun Ong, Hari Raya Gwan Siau.


“Kelenteng ini dibangun dari swadaya warga Tionghoa di Samarinda pada waktu ini, sehingga nama-nama penyumbang diabadikan di dinding klenteng,” jelasnya. Melihat usianya yang telah mencapai satu abad lebih, Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur dan Badan Kepurbakalaan telah menetapkan kelenteng ini sebagai bangunan cagar budaya yang harus dilestarikan keberadaannya untuk mempertahankan nilai-nilai sejarah yang ada.

Sebagai bangunan cagar budaya, kelenteng ini kerap dikunjungi turis dari manca negara. Biasanya, wisatawan mengunjungi kelenteng ini sebelum melanjutkan perjalan wisata ke daerah wisata di pedalaman Kaltim. Selain turis dari mancanegara, masyarakat lokal pun sering berkunjung sekadar untuk berfoto di dalam dan sekitar kelenteng.



Kelenteng yang berada di Jalan Yos Sudarso Samarinda terletak di  muara Sungai Karang Mumus dan Sungai Mahakam ini bahan bangunannya  terbuat dari kayu yang  didatangkan khusus dari negeri Cina. Bahkan, rangkaian bangunan sudah dibuat dari negeri asalnya. Di Samarinda, kayu-kayu tersebut dirangkai menjadi satu. Uniknya, sambungan rangka tiang pada bangunan ini tidak menggunakan paku dari besi. Semuanya menggunakan pasak kayu, bahkan  engsel pintu pun terbuat dari kayu.



“Kelenteng ini tidak saja selalu ramai oleh wargaTionghoa, tetapi juga masyarakat yang sekitar yang ingin bersantai di bagian belakang klenteng. Para orangtua sering melakukan pertemuan di gazebo dan para remaja berolahraga,”.

Jumat, 29 Mei 2015

ARENA JIExpo (Pekan Raya Jakarta) 2015 Semakin banyak SPGnya


Hari Jumat 29 Mei 2015 sore berangkat dari Mall Kelapa Gading, maklum ketemuan ama jagoan yang lagi kerja alias Pameran disana. Dengan menaiki Bajai dengan ongkos 30 ribu saya meluncur ke arena Jakarta Internasional Expo (Pekan Raya Jakarta) tahun 2015, kebetulan hari ini adalah hari Pembukaan yang akan dibuka secara resmi oleh Bapak Wakil Presiden H. M. Yusuf Kalla.
Dengan harga tiket masuk sebesar Rp 30 ribu masuklah saya ke Arena JIExpo tersebut melalui pintu utama.
Begitu tiba di dalam bukan main segala jenis produk semua ada dari produk Peralatan Rumah Tangga, Elktronik, Otomotif, Motor dan aksesorisnya, produk makanan, sampai ke produk makanan dan yang lagi trend saat ini adala "Batu Akik".
Beberapa tahun selama saya mengikuti Pameran ada yang berubah yakni semakin banyak Sales Promotion Girl (SPG)nya yang menawarkan produk terutama produk Rokok, yang membuat kita tercengang karena SPGnya cantik-cantik & seksi lg pakaiannya. Para SPG tidak lelah menawarkan produk kepada setiap pengunjung yang lagi melintas di depan stand mereka.



Sambil berjalan jalan mengelilingi arena JIExpo karena sat itu acara Open Ceremony jg lg berlangsung di Panggung Utama, sayang kita tidak bisa masuk (hanya undangan yang bisa) jadi di pagar oleh para petugas keamanan (TNI, Pori + Pasukan Pengamanan Presiden).


Saya hanya melihat dari kejauhan acara Open Ceremony pas dekat Parkir Mobil para Menteri yang berplat Nomor "RI" dan para duta sahabat dari negara yang diundang.



Ya begitulah suasana Pameran di arena JIExpo Kemayoran tahun 2015 ini yang akan digelar selama sebulan, dan merupakan Pameran Terakbar di Asia Tenggara.
Jika anda ingin berkunjung ke sana persiapkan Budget dan stamina untuk mengitari arena pameran in, dan yang lebih serunya lagi setiap malamnya di Panggung Utama tampil Artis dan Grup Band Papan Atas Indonesia.

Senin, 13 April 2015

Nasi Kuning Ikan Haruan, Wisata Kuliner Unik Khas Kota Samarinda




Apa yang terlintas dalam benak anda ketika pertama kali mendengar kata "nasi kuning"? well, tentu saja adalah nasi yang terbuat dari beras yang dimasak bersama santan dan diberi pewarna alami kuning. Biasanya di sajikan bersama lauk pauk berupa ayam maupun telur rebus. Rasanya yang gurih dan enak membuat masakan ini menjadi masakan populer di hampir semua daerah di Indonesia. Tak terkecuali di daerah Samarinda tentunya.



Di Samarinda, Nasi Kuning hampir dapat ditemui di setiap tempat dan waktu. Di sinilah letak keunikannya, jika di daerah lain nasi kuning biasanya hanya dapat di temui pada pagi hari saat jam sarapan pagi, di kota Samarinda nasi kuning dapat di temui mulai dari pagi hingga dini hari.  Jadi jangan heran jika anda mendapati  penjual nasi kuning yang masih berjualan meski sudah larut malam. Bahkan pemerintah kota Samarinda cukup jeli melihat peluang wisata kuliner ini dengan menjadikan sepanjang Jalan Lambung Mangkurat sebagai kampung nasi kuning dengan harapan daerah tersebut dapat menjadi destinasi wisata kuliner bagi para warga Samarinda maupun warga yang berkunjung ke kota Samarinda.

Keunikan lain yang terdapat pada nasi kuning di kota Samarinda adalah penggunaan lauknya. Jika di daerah lain mayoritas nasi kuning menggunakan lauk ayam dan telur, di Samarinda yang paling terkenal adalah lauk ikan haruan atau ikan gabus.  Ikan haruan/gabus ini biasanya di masak merah. Orang yang berkunjung ke kota Samarinda belum di katakan makan nasi kuning kota Samarinda jika belum makan nasi kuning dengan lauk ikan haruan ini. Lauk ikan haruan ini bisanya di sajikan bersama suhun dan sambal goreng tempe. Bagi anda yang tidak bisa makan ikan sungai atau ikan haruan, tenang saja karena hampir di semua penjual nasi kuning tersebut menyediakan lauk alternatif seperti ayam, telur, dan ampela atau hati ayam. Untuk harga jangan khawatir, harganya sangat bervariasi mulai dari Rp.10.000 hingga Rp.18.000 tergantung lauk yang anda inginkan per porsinya.

So, jika berkesempatan berkunjung ke Samarinda, jangan lupa mencoba nasi kuning kota Samarinda ya, di jamin pasti minta nambah hehehe... untuk pilihan tempatnya, bisa di Kampung Nasi Kuning di sepanjang Jalan Lambung Mangkurat. untuk waktunya terserah anda, mau mendekati dini haripun masih ada :)

Selamat Mencoba.....

Jumat, 26 Desember 2014

HUBUNGAN PARIWISATA DAN BUDAYA


Mengapa orang dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan sebagainya datang berduyun-duyun ke pantai Kuta dan pantai Sanur di Bali? Bukankah di negara mereka sendiri terdapat banyak pantai yang mungkin saja pemandangan alamnya lebih indah daripada pemandangan pantai Kuta dan Sanur di Bali tersebut? Bila kita kaji lebih dalam, ternyata yang menjadi tujuan mereka, para turis asing tersebut adalah ingin melihat Kebudayaan Bali yang terkenal eksotik dan unik, yang berbeda dengan kebudayaan masyarakat mereka. Bila Bali tidak menawarkan kebudayaan masyarakatnya tersebut, mungkin tidak akan ada daya tarik para wisatawan untuk mengunjunginya.

Hal itulah sebenarnya merupakan gambaran konkret dari konsep pariwisata budaya yang istilahnya sering disebut-sebut oleh para pengambil kebijakan (pemerintah) dan para akademisi, namun seringkali sulit untuk dijelaskan dalam definisi konseptual yang operasional, terutama dalam menyepakati konsep kebudayaan itu sendiri.

Dalam khazanah antropologi Indonesia, kebudayaan dalam perspektif klasik pernah didefinisikan oleh Koentjaraningrat sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia yang diperoleh dengan cara belajar. Dalam pengertian tersebut, kebudayaan mencakup segala hal yang merupakan keseluruhan hasil cipta, karsa, dan karya manusia, termasuk di dalamnya benda-benda hasil kreativitas/ciptaan manusia. Namun dalam perspektif antropologi yang lebih kontemporer, kebudayaan didefinisikan sebagai suatu sistem simbol dan makna dalam sebuah masyarakat manusia yang di dalamnya terdapat norma-norma dan nilai-nilai tentang hubungan sosial dan perilaku yang menjadi identitas dari masyarakat bersangkutan.

Dengan demikian, pariwisata budaya merupakan jenis pariwisata yang berdasarkan pada mosaik tempat, tradisi, kesenian, upacara-upacara, dan pengalaman yang memotret suatu bangsa/suku bangsa dengan masyarakatnya, yang merefleksikan keanekaragaman (diversity) dan identitas (character) dari masyarakat atau bangsa bersangkutan.

Indonesia adalah negara yang kaya raya dengan sumber daya alam dan sumber daya budaya yang melimpah. Bangsa kita merupakan bangsa yang serba multi, baik itu multi-insuler, multibudaya, multibahasa, maupun multiagama. Kesemuanya itu bila dikelola dengan baik dapat dijadikan sebagai potensi untuk memakmurkan rakyat dan memajukan bangsa kita.

Sayangnya, dalam wacana pariwisata budaya di tingkat nasional, yang seringkali dijadikan rujukan dan contoh adalah pariwisata di Bali. Seolah-olah hanya daerah Bali yang hanya bisa dimajukan pariwisata budayanya untuk menarik kunjungan baik wisatawan nusantara maupun mancanegara. Tidak salah memang bila kita membanggakan keberhasilan Bali sebagai daerah tujuan pariwisata dunia yang telah menghasilkan sumbangan devisa terhadap negara dalam jumlah besar. Namun bila kita terjebak hanya mengandalkan satu daerah Bali saja, maka kemajuan pariwisata Indonesia akan mengalami ketergantungan yang sangat tinggi terhadap daerah tersebut. Hal ini terbukti, ketika di Bali terjadi tragedi bom yang diledakkan oleh kaum teroris, maka penerimaan devisa negara kita di bidang pariwisata menjadi anjlok.

Kemajuan pariwisata budaya di Bali sangat ironis dengan kondisi pariwisata budaya di daerah-daerah Indonesia lainnya. Di Subang, Jawa Barat misalnya, sepuluh tahun yang lalu, anak-anak remajanya masih banyak yang berminat untuk belajar tari jaipong, sisingaan, dan menjadi dalang wayang golek. Hampir setiap minggu dan dalam acara ritual kehidupan selalu diundang pentas sebagai hiburan budaya yang meriah. Saat ini, ketika teknologi semakin maju, ironisnya kebudayaan-kebudayaan daerah tersebut semakin lenyap di masyarakat, bahkan hanya dapat disaksikan di televisi dan Taman Mini. Padahal kebudayaan-kebudayaan daerah tersebut, bila dikelola dengan baik selain dapat menjadi pariwisata budaya yang menghasilkan pendapatan untuk pemerintah baik pusat maupun daerah, juga dapat menjadi lahan pekerjaan yang menjanjikan bagi masyarakat sekitarnya.


Pariwisata Budaya
Ada banyak cara sebenarnya untuk memajukan pariwisata negara kita. Memang untuk memajukan pariwisata budaya bukan hanya tugas pemerintah tetapi juga masyarakat kita. Namun tentunya Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, serta Dinas Pariwisata di seluruh daerah di Indonesia, sebagai instansi pemerintah yang bertugas memajukan kebudayaan dan pariwisata Indonesia, memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Pertama, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata sesuai dengan fungsinya yang hanya sebagai perumus kebijakan, harus berani dan tegas menentukan konsep, visi, dan misi pariwisata budaya Indonesia. Keberanian untuk menyepakati konsep pariwisata dan budaya juga harus dilakukan karena dalam dunia akademik tidak akan pernah disepakati kedua konsep tersebut yang disebabkan oleh selalu adanya dialektika antara temuan dan pemikiran cendekiawan satu dengan yang lainnya.

Kedua, sesuai dengan semangat otonomi daerah yang menyerahkan tugas pengembangan kebudayaan dan pariwisata kepada Dinas Pariwisata di masing-masing daerah, maka Dinas Pariwisata harus benar-benar menangkap pelimpahan tugas dan wewenang itu sebagai peluang untuk memajukan masyarakat di daerahnya. Sebagai contoh, dengan kekayaan budaya yang kita miliki, maka di setiap kabupaten atau kota Dinas Pariwisata minimal dapat mendirikan satu pusat atau sentra pariwisata budaya yang menampilkan keanekaragaman budaya di wilayahnya masing-masing. Bentuk konkretnya adalah didirikannya semacam Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di masing-masing daerah bersangkutan.

Ketiga, para pengamat pariwisata dan budaya sudah saatnya untuk lebih mengutamakan kajian dan penelitian yang merekomendasikan bagaimana memajukan kebudayaan dan pariwisata Indonesia dibandingkan dengan kajian dan penelitian yang selalu memberikan kritik yang belum tentu konstruktif terhadap kebijakan pembangunan pariwisata dan budaya, yang seringkali justru menyebabkan ketakutan pada instansi pemerintah untuk mengambil kebijakan.

Keempat, peran serta masyarakat dalam pembangunan sentra-sentra budaya di masing-masing daerah harus diutamakan. Misalnya, kelompok-kelompok kebudayaan dan kesenian yang akan dipentaskan harus bergiliran dan tidak dimonopoli oleh kelompok kesenian tertentu saja. Di samping itu, anggota masyarakat sekitar juga harus diutamakan untuk direkrut mengelola sentra budaya bersangkutan dengan diberikan pendidikan dan pelatihan terlebih dahulu.

Bila pembangunan pariwisata budaya ini dapat segera dilakukan dengan terarah dan berkesinambungan di seluruh daerah di Indonesia, maka kelestarian budaya, inovasi dan kreativitas budaya, kerukunan antarbudaya, lapangan pekerjaan, pemasukan terhadap pendapatan daerah dan devisa negara adalah sumbangan penting yang dapat diberikan oleh bidang pariwisata budaya untuk peradaban Indonesia yang lebih baik di masa mendatang.

MENGADU NASIB DI IBU KOTA

Ada pameo yang mengatakan bahwa "Sekejam-kejamnya Ibu Tiri, lebih kejam lagi Ibu Kota", demikian juga dengan lirik lagu berbunyi "Sapa suruh datang Jakarta, sapa suruh datang Jakarta " ini menggambarkan betapa beratnya mencari penghidupan di Ibu Kota. Gambaran yang dimaksud adalah bagaimana kondisi sosial, ekonomi, politik dan budaya di Ibu Kota, bagaimana kondisi disaat orang-orang mengeluh dengan kemacetan di jalan, banyaknya anak-anak jalanan yang tidak mampu bersekolah, akhirnya turun ke jalan untuk menjadi gelandangan, pengemis, dan ngamen, sulitnya mencari lapangan pekerjaan dan berbagai macam problema yang sering kita simak di berbagai media baik cetak maupun elektronik.


Inilah Sang Mahasiswa sewaktu meraih Sarjana

Namun gambaran tersebut diatas akhirnya pupus juga dari pemikiran saya setelah salah seorang yang berpredikat Sarjana Farmasi (Universitas Mulawarman) mencoba melanjutkan pendidikan professinya di salahsatu Perguruan Tinggi di Kota Cimahi (Universitas Akhmad Yani) jawa barat dengan mengambil jurusan Apoteker dan menyelesaikannya dengan kriteria baik. Sang Mahasiswa yang tinggal di Asrama Lamin Mahakam (asrama yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi Kaltim) yang berlokasi di Kota Bandung rela pulang pergi Bandung-Cimahi guna menuntut Ilmu dengan kendaraan Roda 2 yang dibeli sejak masih duduk dibangku Sekolah Menengah Atas. Selama kurang lebih 1 (satu) tahun akhirnya sang mahasiswa dikukuhkan dengan Sumpah serta diwisuda menjadi sebagai seorang Apoteker.


Dengan mengantongi sertifikat sebagai seorang Apoteker dan berbekal ijazah Apoteker, mulailah dia mencari-cari lowongan pekerjaan baik di Kota Bandung maupun di Ibu Kota Jakarta, dan ternyata ada beberapa perusahaan yang bergerak di bidang farmasi serta apotik yang tertarik. Salahsatunya adalah sebuah Perusahaan yang sering membuat Outlet Kesehatan di Mall-mall besar di seluruh Kota Besar di Indonesia. dan saat ini dia pun diterima bekerja di salahsatu Plaza yang berlokasi di Jakarta Pusat dimana terdapat Outlet Perusahaan tersebut.

Saat di Wisuda Menjadi Seorang Apoteker


Jadi saya berpendapat bahwa saat ini untuk mendapatkan pekerjaan dengan cepat diperlukan tenaga yang professinya memang dibutuhkan tanpa memandang lokasi sekalipun itu di Ibu Kota Jakarta yang katanya susah sekali mendapat lapangan pekerjaan.

Saat ini tergantung kita mau bekerja secara Professional, Bertanggungjawab, serta punya Loyalitas kepada Perusahaan tempat kita bekerja. Dan yang paling utama adalah Jujur dan Adil dalam melaksanakan amanah dan tanggung jawab.

(sekian coretan saya disela-sela menunggu Beduk Isya) 

   

Jumat, 19 Desember 2014

SARUNG SAMARINDA SARUNG TENUN YANG DIBUAT DENGAN ALAT TENUN BUKAN MESIN



Kerajinan tenun Sarung Samarinda pada awalnya dibawa para perantau Bugis dari Sulawesi yang tinggal di pesisir Sungai Mahakam, tepatnya di Kampung Pamanah, Gang Pertenunan, Samarinda Seberang. Berada jauh dari tanah leluhur tidak membuat perempuan Bugis melupakan tradisinya. Sambil menunggu suami-suami mereka pulang dari bekerja serta mengasuh anak-anak, mereka memanfaatkan waktu dengan menenun sarung. Sarung bermotif kotak-kotak yang mereka buat ternyata menarik perhatian orang-orang untuk membelinya.

Para pengrajin mengenal dua teknik dalam menenun Sarung Samarinda, yaitu dengan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dan dengan cara tradisional yang disebut dengan walida. Pengrajin pendatang ini kabarnya sangat terampil dalam bertenun kain. Pembuatan satu sarung dari bahan baku memerlukan waktu sekitar satu pekan. Sedangkan proses menenunnya memerlukan waktu sekitar tiga hari.

Ciri khas Sarung Samarinda adalah bahan bakunya yang menggunakan sutera yang khusus didatangkan dari Cina. Sebelum ditenun, bahan baku sutera masih harus menjalani beberapa proses agar kuat saat dipintal. Proses pertama adalah merendam bahan baku dalam air selama tiga hari. Setelah itu dimasak dalam campuran air dan pewarna sampai mendidih selama sekitar dua jam. Lalu bahan baku dicuci hingga bersih dan langsung dikanji. Setelah dikanji, diperas, dan dijemur hingga kering, barulah bahan baku bisa dipintal menjadi benang tenun sutera. Untuk mendapatkan hasil yang baik, pemintalan harus dilakukan sehalus mungkin.


Sehelai sarung yang dihasilkan pengrajin biasanya memiliki lebar 80 centimeter dan panjang 2 meter. Dengan ukuran sarung sebesar itu pasti ada jahitan sambungan di bagian tengahnya yang dibuat dengan menggunakan tangan. Sarung asli tidak pernah disambung dengan menggunakan mesin jahit. Inilah salah satu cara untuk membedakan kain yang asli dari yang palsu atau buatan mesin pabrik.

Perbedaan lainnya adalah kain yang asli atau yang dibuat dengan ATBM biasanya terasa agak kasar tetapi sejuk saat dipakai. Kain palsu terasa halus namun saat dipakai terasa panas. Sementara sarung asli yang dibuat dengan teknik walida juga halus sekaligus terasa sejuk saat dipakai.

Kalau ingin lebih memastikan lagi mana sarung yang asli dan yang palsu, tariklah satu benang sarung dan bakar. Jika benang yang dibakar berubah menjadi seperti karet, berarti itu adalah sarung asli yang menggunakan benang sutera. Tapi kalau benang yang dibakar berubah jadi abu, sarung tersebut pasti dibuat dari benang kapas murahan. Pembeli memang harus berhati-hati saat membeli Sarung Samarinda karena sangat banyak beredar sarung palsu.

Sekarang sudah ada belasan kampung penenun yang berada di gang-gang yang berdekatan. Nama-nama kampungnya beragam, sesuai dengan kampung asal mereka di Sulawesi. Ada Kampung Wajo, Sengka
ng, Sidrap. Sementara itu sejumlah galeri, toko, dan koperasi bermunculan menjual hasil kerajinan tenun Sarung Samarinda di sepanjang jalan raya Samarinda.

Jika menyusuri gang-gang pertenunan, mesin pintal dan tenun akan terlihat di halaman depan rumah penduduk. Sementara di samping dan emperan rumah, sarung yang masih basah oleh kanji sedang dijemur. Penggunaan kanji berfungsi agar sarung tampak baru dan awet.

Jika ingin memiliki Sarung Samarinda yang asli, sebaiknya membeli langsung atau memesannya di beberapa tempat suvenir di Samarinda. Harga Sarung Samarinda berkisar antar Rp 150.000 hingga Rp. 250.000.

AMPLANG KERUPUK IKAN, CAMILAN KHAS KOTA SAMARINDA

Singgah di Kota Samarinda, tak lengkap rasanya jika tidak membawa pulang buah tangan yang satu ini. Amplang namanya. Sejenis kerupuk dengan cita rasa dan aroma ikan yang khas. Makanan ringan bercita rasa gurih ini seakan sudah menjadi oleh-oleh wajib bagi wisatawan yang bertandang ke Kalimantan Timur.

Amplang terbuat dari daging ikan yang digiling halus dengan campuran tepung sagu. Ikan yang biasa digunakan adalah ikan tenggiri, gabus (haruan), atau belida (ikan pipih). Setiap jenis ikan tersebut memiliki kekhasan tersendiri. Jenis ikan yang dianggap terbaik adalah ikan belida karena rasa gurihnya yang lebih enak dan tekstur daging yang lembut saat dihaluskan.

Proses pembuatan kerupuk ini relatif sederhana, tetapi sentuhan yang berbeda dari setiap pembuatnya menciptakan kekhasan tersendiri dari setiap produsen. Langkah pertama, ikan yang telah dibersihkan dari sisik dan duri digiling hingga halus. Daging yang telah halus diberi garam, bumbu-bumbu, serta air hingga rata. Lalu, dimasukkan tepung sagu dan diuleni hingga kalis. Adonan tersebut kemudian direbus atau dikukus selama kurang lebih satu jam, lalu dijemur agar menghasilkan amplang yang bagus saat digoreng.

Tahap selanjutnya adalah pemotongan dan penggorengan amplang. Adonan yang masih berbentuk gumpalan besar tadi diiris tipis, lalu dipotong memanjang atau berbentuk dadu dengan ketebalan sekitar 0,5-1 centimeter. Potongan-potongan ini digoreng dengan minyak panas hingga mengembang dan berwarna kuning kecokelatan. Setelah ditiriskan, amplang dapat disimpan dalam wadah tertutup agar tetap renyah dan tahan lama.

Seiring waktu, setiap produsen memiliki cara tersendiri dalam berinovasi dengan produk amplang buatannya. Di antaranya ada yang mengemas amplang dalam plastik aluminium foil yang membuatnya terlihat lebih elegan. Ada pula yang menambahkan rasa artifisial seperti barbecue, ayam bawang, lada hitam, serta rasa-rasa lainnya. Apapun inovasinya, kerupuk ini memang layak menjadi suguhan favorit bagi rekan dan kerabat di kampung halaman.

Senin, 15 Desember 2014

Kota Samarinda Semakin Mempersolek Dirinya


Jika anda berjalan entah mengendarai roda empat, roda dua, atau sekedar berjalan kaki, tentunya kita akan melihat keadaan yang berubah di Kota Samarinda dibanding kurun waktu 2 atau 3 tahun yang lalu. Yah gambaran perubahan itu tercermin dari mulai jalan- jalan terutama di kawasan Perumahan, jalan-jalan di pinggiran kota yang telah dicor, perbaikan taman-taman kota, sampai perbaikan trotoar menjadi pemandangan yang mengasyikkan untuk dinikmati.

Sebagai pegawai di Dinas Pariwisata Kota Samarinda tentunya kami sangat bangga akan perubahan wajah kota saat ini, syukur-syukur bisa menjadikan kota Samarinda sebagai Kota Tujuan Wisata bagi masyarakat di Kalimantan Timur sekaligus daerah tujuan wisata bagi Wisatawan Nusantara maupun Wisatawan Manca Negara.

Sebagai ibukota provinsi Kalimantan Timur kota Samarinda merupakan kota yang nenjadi simpul dari kabupaten / kota yang ada disekitarnya, seperti Balikpan di selatan, Kota Bontang dan Kutai Timur di sebelah utara, Kabupaten Kutai Karta Negara yang mengelilingi kota Samarinda baik dan kabupaten Kuatai Barat disisi baratnya. Tentunya Kota Samarinda menjadi sangat mudah untuk diakses dari berbagai penjuru. Ibarat seorang gadis yang sedang bersolek Samarinda menjadi rebutan para pelancong yang ingin menikmati kemolekan dan keindahan kota Samarinda.

Perubahan yang bisa kita lihat dan rasakan adalah direhabilitasinya beberapa taman, seperti taman di tepian sungai Mahakam ada Teluk Lerong Gardena yang berlokasi di jalan RE Martadinata, begitu cantik dan menariknya jika kita kunjungi pada malam hari, karena dihiasi dengan berbagai lampion beraneka bentuk dari bentuk kembang maupun bentuk ikan dan menyala berwarna warni menambah semaraknya kawasan teluk lerong tersebut. Dikawasan tersebut dibangun pula tugu Perahu Tambangan, ini mengingatkan kita tentang sejarah transportasi sungai mahakam dari jaman dulu sampai sekarang untuk menyeberangkan orang dari Samarinda kota ke Samarinda Seberang. Pengamatan kami setiap malam apalagi pada saat malam akhir pekan Teluk Lerong Garden dipenuhi masyarakat yang datang sekedar untuk menikmati lampion-lampion sampai sekedar berfoto ria di taman tersebut.

Demikian juga dimulai dari tugu Pesut di depan Kantor Gubernur Provinsi Kaltim suadah dimulai penataan taman yang nantinya diberi nama "Mahakam Lampion Garden" sungguh sangat semarak bila penataan taman tersebut selesai nantinya. Begitupula dengan Taman Pintar yang berlokasi di depan sekretarian Tim Penggerak PKK Kota Samarinda yang setiap hari dikunjungi mulai anak-anak, para remaja dan bahkan para orang tua juga menikmati taman pintar ini.

Coba kita perhatikan jalan-jalan protokol seperti jalan M Yamin pembatas di tengah jalannya ditata sedemikia rupa sehingga taman dan pohon terlihat begitu rapi dan teduh dengan tanaman pohon, begitupula di sepanjang jalan Dr Sutomo, Jalan Pahlawan, sungguh indah kelihatan. Ini mencerminkan bahwa Kota Samarinda betul-betul berbenah diri. Begitu juga dengan trotoarnya saat ini dipercantik dengan hamparan kerikil putih yang dipadu dengan motif-motif yang indah dan rapi. Dan satu lagi yang tak kalah pentingnya, saya lihat
beberapa halte dibangun sepanjang jalan KH Wahid Hasyim sampai ke jalan Pahlawan.

Begitulah wajah kota Samarinda saat ini yang kian hari kian mempercantik dirinya dan ini merupakan komitment Walikota Samarinda beserta segenap jajarannya untuk memberikan pelayanan dengan membangun fasilitas umum demi kenyamanan warga dan masyarakat.

Kita berharap kedepannya Kota Samarinda menjadi Kota tujuan wisata dengan berbagai fasilitas yang sudah disediakan mulai dari fasilitas Transportasi, Akomodasi, dan Konsumsi serta fasilitas penunjang lainnya, sehingga para wisatawan akan betah berlama-lama tinggal di Kota Samarinda.

Mari jadikan kota Samarinda sebagai kota yang Sejuk, Aman, Tertib, Bersih, Ramah, sehingga ada Kenangan tersendiri bagi pengunjung/wisatawan untuk kembali lagi ke Samarinda,

Kamis, 04 Desember 2014

SEJARAH KERAJAAN KUTAI




Zaman sejarah Indonesia dimulai dengan adanya sebuah peninggalan tertulis di daerah Kutai. Kutai merupakan sebuah daerah yang terletak di sekitar tepi aliran Sungai Mahakam (Kalimantan Timur, Indonesia). Di tempat ini ditemukan sebuah batu bersurat atau prasasti berbentuk Yupa yang berjumlah tujuh buah. Yupa merupakan sebuah tugu batu bertulis yang dibuat sebagai peringatan upacara kurban. Semua yupa tersusun dalam bentuk syair yang menggunakan tulisan Pallawa dan dalam bahasa Sansekerta.

Yupa-yupa yang ditemukan di daerah Kutai tidak berangka tahun. Oleh karena itu, para ahli menentukan usia yupa dengan meneliti bentuk-bentuk huruf dan bahasa yang digunakan. Atas dasar penelitian itu, diketahui bahwa pada sekitar tahun 400 Masehi atau awal abad ke-5 telah berdiri sebuah kerajaan, yakni Kutai. Hingga kini Kutai dianggap sebagai kerajaan tertua di Indonesia.

Kerajaan Kutai didirikan oleh Kundunga. Dilihat dari namanya, Kundunga belum terkena pengaruh HIndu. Nama Kundunga adalah nama asli penduduk setempat. Mungkin sekali beliau adalah seorang kepala adat yang mana sangat berpengaruh. Kundunga mempunyai putra yang bernama Aswawarman. Ketika Aswawarman naik tahta, beliau dinobatkan sebagai raja dengan melalui cara khas Hindu. Penobatan raja diperkirakan dengan cara vratyastoma, yaitu pengangkatan seorang menjadi kasta yang tinggi (bangsawan). Raja Aswawarman disebut sebagai wangsakarta, yang bermakna pendiri kerajaan, Maksudnya, yaitu Aswawarman adalah raja yang pertama kalinya membentuk keluarga yang sudah berbudaya India. Sejak Aswawarman berkuasa di Kutai, budaya Hindu mulai memasuki kalangan keluarga kerajaan dan mempengaruhi corak kebudayaan dan kehidupan masyarakatnya.

Aswawarman mempunyai tiga orang putra yang laksana api suci. Namun, putera yang paling terkenal adalah dan terkemuka ialah Mulawarman. Pada sebuah yupa diterangkan bahwa Raja Mulawarman adalah raja yang mulia dan terkemuka, yang telah memberi sedekah berupa 20.000 ekor sapi kepada para brahmana di tanah suci waprakeswara (tanah suci yang ditinggalkan untuk menyembah Dewa Syiwa). Tugu ini dibuat para brahmana untuk menghormati kebaikan Raja Mulawarman. Berdasarkan keterangan ini, diduga Kerajaan Kutai merupakan sebuah kerajaan yang cukup kaya dan makmur.

UNIKNYA GANG PERTENUNAN PUSAT PRODUKSI SARUNG SAMARINDA

Sudah jadi rahasia umum, produk warisan budaya indonesia sangat kaya dan beragam, salah satunya adalah sarung dan kain, di tanah jawa kita kenal dengan kain dan sarung batiknya, di sulawesi, terkenal dengan lipa' sabbe, ada juga yang di sebut sarung dan kain ulos, serta banyak lagi ragam sarung dan kain yang menghiasi keanekaragaman budaya indonesia, namun kali ini kita akan sedikit mengulas sarung samarinda yang sekarang mulai terncam keberadaanya karna kurangnnya minat generasi muda untuk mempelajari dan melestarikannya.

jika kamu bertanya pada orang2 terkenal, pejabat tinggi dan artis2, atau wisatawan yang berkunjung ke kalimantan timur , oleh2 apa yang mereka dapat jika mereka pulang, mereka secara serempak akan menjawab sarung samarinda,karna sarung samarinda sudah menjadi salah satu icon wisata di kalimantan timur.

Sarung tenun samarinda mirip seperti sarung kebanyakan yang merupakan produksi pabrikan, namun yang membuat sarung ini istimewa adalah proses pembuatan, pemilihan bahan dan desain motifnya yang semuanya di kerjakan dengan manual dan hanya menggunakan alat tradisional...
bahan yang di gunakan adalah benang sutra asli, yang di proses hingga menjadi braneka macam warna yg kemudian akan di rajuk dengan alat khusus hingga membentuk satu bentuk sarung dengan motif yang khas,

Sejarah sarung tenun samarinda

Sekitar abad ke 18, masyarakat bugis sulawesi masuk ke kalimantan timur untuk meminta suaka pada penguasa kaltim pada saat itu karna terjadi perang saudara di sulawesi selatan dan mereka memilih mengungsi karna tak ingin adanya perpecahan di antara keluarga mereka, dengan senang hati masyarakat kaltim menerima mereka dan memberikan sebuah pemungkiman tempat tinggal untuk mereka bercocok tanam dan menangkap ikan .

karna tanahnya yang subur dan berada tepat di pinggir sungai mahakam tempat itu berkembang maju dan banyak di datangi pendatang, hingga sekarang, tempat itu di pilih menjadi ibukota kalimantan timur, yaitu samarinda. di saat itulah sarung samarinda yang di adaptasi dari budaya sulsel itu mulai di kenal hingga sekarang
awalnya sarung samarinda menggunakan tennung tudang, atau alat tenun sederhana yang menggunakan kedua kaki dan pinggang sang penenun sebagai penyangga sebagai bagian dari alat penyangga tenun, sampai akhirnya di temukan alat tenun bola bola yang tidak mennggunakan badan lagi sebagai tumpuan, namun masih menggunakan kedua kaki untuk menjalankan alat tenun ini.



Kampung baqa pertenunan, wisata sarung tenun samarinda

berkunjung ke satu sudut kampung di pinggiran tepian sungai mahakam samarinda, kita akan menemui sebuah pemandangan unik dimana hampir tiap teras maupun dalam rumah penduduk kampung itu ada alat tenun, mungkin karna itu kampung itu di sebut sebagai kampung atau gang pertenunan, karna khampir semua ibu2 rumah tangga dan wanita lanjut usia di kampung ini profesinya adalah pembuat sarung tenun sutra samarinda, yang memprihatinkan menurut saya, remaja2 wanita hampir tak satupun yg saya temui menggeluti atau mempelajari sarung samarinda ini, tentu saja ini adalah kprihatinan saya dimana remaja indonesia yang seyogyanya merupakan pewaris dari budaya tenun samarinda yang di geluti orang tua mereka, malah enggan untuk mempelajarinya,dengan alasan klise, karna malu atau gengsi di depan temen2 sebayanya, jika hal ini terus berlangsung, kepunahan pada sarung samarinda akan terjadi jika orang tua mereka telah menua dan tak mampu lagi melanjutkan untuk bertenun...



Pemandangan unik ini di tambah dengan suara yang bersahut sahutan dari alat tenun itu. seperti berirama, dan memiliki suara yang hampir sama pada tiap alat tenun, hingga kesannya seperti orang yang memukul kentongan secara bersamaan dengan irama tertentu.
proses pembuatan sarung tenunpun terbilang sulit, karna prosesnya yang memakan waktu cukup lama untuk menghasilkan selembar kain sarung, dari informasi seorang ibu2 yang profesinya sebagai penenun, di butuhkan waktu 2 minggu untuk tenung bola2 ( alat tenun yang lebih besar) dan 4 minggu untuk tennung tudang ( alat tenun duduk yang menggunakan tubuh sebagai penyangga )

proses pembuatan di awali dengan pewarnaaan benang sutra pilihan sesuai warna motif yg akan di buat,setelah itu pengeringan, lalu proses pemintalan, dan terakhir proses penenunan

proses penenunan ini memerlukan konsentrasi dan ketelitian serta keahlian khusus dari sang penenun, karna di sinilah proses pembentukan motif terjadi, berbeda dengan batik, yang hanya menggambar di atas seutas kain, dalam tenun samarinda, motif di ciptakan saat mereka membuat kain sarung itu sendiri, keistimewaannya adalah dimana mereka bekerja keras untuk merangkai lembar demi lembar benang sutra itu menjadi kain sarung, merekapun di tuntut untuk menerapkan ide2 motif yang masih ada dalam imajinasi mereka, dan di tuangkan pada tiap2 helai benang yang mereka tenun,unik bukan???

konon di malaysia pun sudah mengklaim kain sarung sutra khas orang bugis sebagai budayanya, mudah2an remaja2 kita lebih perduli sekarang dengan terancamnya budaya2 nenek moyang indonesia yang kian hari kian dilupakan.

Sebagai penutup, jika anda berkunjung ke kalimantan timur, jangan lupa menyempatkan untuk berkunjung ke kampung gang pertenunan untuk melihat sendiri proses unik pembuatan sarung asli samarinda ini.

Memotret budaya suku Dayak di Desa Pampang, Kalimantan Timur



Kalo kamu tertarik dengan budaya suku Dayak, cobalah mengunjungi desa budaya Pampang di Samarinda, Kalimantan Timur ini. Di hari-hari biasa, kamu bisa mengamati keseharian orang-orang suku Dayak Kenyah. Sementara, di hari Minggu para penduduk sibuk mempersiapkan pertunjukan seni yang diadakan dari jam 2–3 siang. Selain berfoto bersama penampil tarian Dayak, kamu juga bisa membeli suvenir khas desa Pampang yang dijual penduduk desa.

Selasa, 18 Februari 2014

MENGIKUTI RAPAT KERJA TEKNIS PARIWISATA SE KALIMANTAN TIMUR DI DENPASAR PROVINSI BALI

Hari Kamis 13 Pebruari 2014 kami dari staf Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Kominfo Kota Samarinda bertolak ke Denpasar Bali dengan menggunakan salahsatu maskapai penerbangan dari Bandara Sepinggan Balikpapan sekitar jam 10'15 Wiiteng kami take of menuju Denpasar Bali dengan transit di Surabaya. sekitar kurang lebih 1 jam transit di Bandara Intenasional Juanda Surabaya kami melanjutkan perjalanan menuju kota Denpasar Bali.


Sekitar jam 14'30 kami landing di Bandara Ngurah Rai Denpasar Bali dan dijemput Sdr Burhan yang memang selalu melayani jika ada rombongan dari Pemkot Samarinda yang akan berkunjung ke Bali.
Setelah seluruh barang sudah ok kami lansung diantar menuju salahsatu Hotel yakni Hotel Melasti Beach Bungalows yang terletak di Jln Dewi Sartika Kuta Beach...


Setelah menyimpan barang bawaan di kamar Hotel kami langsung menuju ke Pantai Kuta untuk menikmati Sunset dan berfoto foto di Pantai tersebut sambil menikmati deburan ombak di pantai kuta ini, malamnya kami makan disalahsatu restauran bernama warung Plengkung di jalan Raya Kuta denpasar warung yang menyediakan menu Ayam Bakar/goreng dan Ikan.


Setelah kenyang makan malam langsung menuju ke Krisna pusat oleh-oleh di Pulau dewata, setelah itu kemudian menuju ke Kawasan Legian  meliahat-lihat Monumen Tragedi Bom Bali dan balik ke hotel untuk istirahat.

Hari Jum'at 14 Pebruari 2014 rombongan kami pindah ke Hotel Eden tidak jauh dari Hotel Melasti dan saat itu ingin saya gunakan untuk jalan-jalan menyusuri seputar Kota Denpasar, akhirnya saya menyewa Sepeda Motor yang dirental tepat di depan hotel, harga sewa rental Sepeda Motor Rp 60.000,- / 24 jam jenis motornya matic, saya sewa selama 2 (dua) hari hanya dengan jaminan Kartu Tanda Penduduk.

Usai Jum'at langsung saya mencari warung makan untuk mengisi kampung tengah, kali ini saya harus mencari warung yang menyediakan makanan yang halal, maklum di Bali kita harus hati-hati terutama kita yang muslim karena di bali banyak juga warung yang menyediakan makanan Non Halal, kali ini saya pilih saja Warung Padang agar lebih aman...

Setelah perut kenyang langsung menuju ke Joger tempat belanja baju kaos yang bertulisan unik ( saat ini sudah banyak macam yang dijual termasuk Sandal, Tas, Jacket, Handycraft, Merchandise dsb) pokok tinggal duitnya saja kita siapkan untuk memborong oleh-oleh tersebut.

Discovery Mall Yang Terletak di Kawasan Pantai Kuta Bali


Kamis, 26 Desember 2013

PESONA DESA BUDAYA PAMPANG SAMARINDA

DESA Pampang didirikan pada era 1970-an oleh 5 kepala keluarga. Mengenai asal keluarga itu, ada dua versi yang diterima media ini, yakni dari Long Lees, Kecamatan Busang, Kutai Timur dan daerah Apokayan, Malinau. Yang pasti, keluarga ini adalah Suku Dayak Kenyah.

Hasil perbincangan media ini dengan Kepala Adat Dayak Kenyah Desa Budaya Pampang, Marten Abat dan staf humas adat, Penjaunjuk, diketahui perjuangan kelima keluarga ini sangatlah berat. Dari daerah asal, mereka mendayung perahu mereka dan berladang. Hingga akhirnya menetap di Kelurahan Sungai Siring, sekitar 20 kilometer dari Kota Samarinda.

Seiring waktu, sanak keluarga dan tetangga dari daerah asal mengikuti jejak kelima keluarga itu. Mereka akhirnya memilih menetap dan memenuhi kebutuhan hidup dengan cara bertani dan berladang. Adat budaya yang terus mereka bawa, membuat Pemprov Kaltim menjadikan Pampang sebagai Desa Budaya sekitar tahun 1991.
Rumah adat berbentuk lamin mereka dirikan ketika mereka tiba. Lamin itulah masih bisa wisatawan saksikan hingga. Bernama Lamin Adat Pemung Tawai, rumah adat itulah yang kini menjadi pusat hiburan bagi wisatawan yang berkunjung ke Desa Budaya Pampang.
Mulai berfoto dengan penari, warga yang berpakaian adat, hingga berfoto dengan warga yang memiliki telinga panjang.

LAMIN ADAT PAMPANG


Para Wanita Bertelinga Panjang










Lamin terbagi dalam tiga bagian, yakni bagian tengah yang telah dibangun sejak mereka tiba pertama kali, serta bagian sayap kanan dan kiri yang dibangun tahun 1994 dan 1997. Uniknya, pada bagian tengah, terdapat ukiran kayu ulin yang sangat indah.
Penjaunjuk yang juga menjadi penggerak kesenian dan penjaga kebersihan Lamin menjelaskan, dalam ukiran tersebut menggambarkan kondisi kehidupan sosial kemasyarakatan Suku Dayak Kenyah.
Dalam ukiran dikatakan terdapat ukiran sosok pria yang disebutnya sebagai kepala adat yang bertindak sebagai pemimpin. Selain itu, terdapat ukiran burung enggang di sisi kanan dan kiri atas bangunan yang dikatakan menggambarkan hidup damai.
Terdapat pula dua ukiran harimau di pojok kiri dan kanan bawah yang dijelaskan sebagai sosok pahlawan. Tak hanya itu, terdapat pula tempayan yang terletak tepat di bawah kaki ukiran kepala adat yang dijelaskan sebagai tempat berkumpulnya jiwa masyarakat.
Di bawah tempayan, terdapat ukiran gong yang dijelaskan sebagai pelindung. Sehingga selamat dari bencana. “Misalnya ada hujan batu, maka suku kami akan tetap aman,” terangnya.  Bahkan ia juga menggambarkan ukiran Naga tepat di bawah gong yang menjadi simbol penjaga ketika warga suku Dayak Kenyah pergi ke sungai.
Untuk mengingat asal usul mereka, warga selalu memperingati dalam bentuk kegiatan Pelas Tahun. “Acara itu menceritakan kisah-kisah masyarakat Pampang. Biasanya akan ditentukan tema-temanya sebelum acara. Setelah disepakati, baru akan digelar acaranya,” ucap Marten Abat yang menambahkan acara Pelas Tahun selalu digelas setiap bulan Juni.
Acara itu awalnya sempat ditinggalkan masyarakat setempat, karena kegiatan itu terkait masalah kepercayaan. Tapi, kegiatan itu kini kembali dilakukan. Bukan untuk ritual kepercayaan, tapi sebatas show atau pertunjukan.
Marten Abat meminta, acara Pelas Tahun seharusnya masuk dalam kalender kegiatan Pemkot Samarinda, sehingga dapat mengundang wisatawan datang ke Desa Budaya Pampang. Targetnya, perputaran uang akan besar dan kesejahteraan masyarakat juga meningkat.
“Tapi pelaksanaan selama ini selalu menggunakan dana swadaya masyarakat. Kalau pemerintah membantu, biasanya setelah dilaksanakan. Jika benar mau membantu, serahkan dananya ke kami. Nanti kami buatkan Pelas Tahun selama seminggu penuh. Sekarang ini, biasanya hanya 1 hari,” terangnya
Ada beberapa nama pejabat yang hingga kini masih melekat di telinga masyarakat, yakni mantan Wali Kota Samarinda, Kadrie Oening, dan mantan kepala Dinas Pariwisata Samarinda, Ismet dan Robby Hartono
“Walau bantuan dananya tidak sebesar yang diharapkan, tetapi pendekatan dan perhatian yang diberikan ke masyarakat membuat nama mereka terus diingat hingga kini. Sampai sekarang, belum ada lagi pejabat yang seperti itu. Kami harap Jaang bisa menjadi penerusnya,” harapnya. 
Pertunjukan Tari Tradisional di Desa Budaya Pampang



KEMEGAHAN MASJID ISLAMIC CENTER SAMARINDA

Bedug Yang Berdiri Di Depan Tangga
Mimbar Chatib
Interior Ruangan Dalam Masjid

Selasar Islamic